Cipaku

cipaku

Cipaku berasal dari dua suku kata yaitu Ci dan Paku, Ci artinya adalah Chi, Energi Cahaya, dan Paku artinya Lingga atau Linggih atau Hadir. Cipaku, Cahaya Pakuning Alam, Simbol Hadirnya Cahaya Tuhan di dalam Diri Manusia dan Alam Semesta. Cipaku dalam terminologi Islam adalah Cahaya Illahi, hadirnya Cahaya Tuhan di dalam diri manusia yang mengajarkan manusia kepada Jalan Yang Lurus, Jalan Terang, Jalan Tuhan, Jalan Keselamatan. Sebagai Simbol Hadirnya atau Linggihnya Cahaya Tuhan, di tempat- tempat dahulu para leluhur berkontemplasi mendekatkan diri dengan Tuhan, maka diberi tanda Lingga/ Palinggihan berupa Menhir/ Batu Tunggal/ Tetengger Hiji/ Dat Alif Satunggal/ Batu Satangtung, Simbol Nangtungnya/ Tegaknya Cahaya Tuhan di tempat tersebut. Oleh karenanya Batu Satangtung tersebut disebut Paku, Paku Pengikat Kesadaran Manusia, Paku Alam Pengikat Jagat Raya yang berfungsi untuk membangun kesadaran manusia kembali ke Jalan Terang, Jalan Ceto, Jalan Tuhan. Dalam sejarahnya Prabu Tajimalela yang dikenal juga dengan sebutan Batara Tungtung Buana, Prabu Cinde Wulung, Haji Darmaraja, atau Aji Saka ketika berkontemplasi di Kabuyutan Cipaku beliau melihat cahaya terang benderang dan itulah CiPaku ~ Chi Paku ~ Cahaya Illahi yang menerangi hatinya dan mendapatkan pencerahan, lalu kemudian beliau berucap “Insun Medal Madangan”, Aku Lahir Menerangi Dunia. Masyarakat Kabuyutan Cipaku menyakini bahwa Cipaku adalah Wiwitan atau Permulaan merupakan Awal dari semua peradaban manusia di alam semesta ini.

sangpencerah.png

Masyarakat Kabuyutan Cipaku secara turun temurun dalam tradisi lisan diajarkan oleh para leluhur tentang Pantun Buhun Cipaku, Manuscript/ Buku Pakuning Alam yang merupakan Buku Sejarah Alam Semesta dari mulai awal penciptaan sampai Akhir. Proses penciptaan alam semesta yang diyakini oleh masyarakat Kabuyutan Cipaku disebut sebagai Wawacan Endog Sapatalang, Cerita tentang Telur Serangkaian, semuanya berasal dari satu titik/ butir telur. Ketika alam semesta masih kosong/ hampa/ masing awang- awang uwung- uwung/ ghaib maka kemudian Tuhan Yang Maha Kuasa dari satu titik cahaya/ telur alam semesta tersebut menciptakan tiga bibit manusia yang merupakan Nur/ Cahaya/ Aci/ Sukma yang masih ghaib belum memiliki wujud manusia seperti saat ini, semuanya masih dalam Kahyangan atau Kalanggengan. Ketiga Bibit Manusia itu masing- masing berwarna merah, putih, dan hitam, atau disebut dengan Nu Tilu, Hyang Tiga, Yang Tiga. Yang Tiga tersebut adalah manifestasi atau Ciptaan Hyang Agung Tuhan Yang Maha Kuasa yang tidak bisa dipisahkan sebagai satu kesatuan, disebutnya Patutunggalan, Tri Tunggal dan Tri Tangtu. Masyarakat Kabuyutan Cipaku meyakini bahwa Nu Tilu medal pertama kali di Cipeueut Kabuyutan Cipaku. Lalu kemudian Nu Tilu melanglang buana berganti rupa dan berganti nama berkelana ke seluruh penjuru dunia berganti- ganti kedok atau topeng / jasad/ tubuh manusia untuk menyebarkan ajaran Cipaku atau Cahaya Illahi dan membangun tempat- tempat suci yang sampai saat ini masih dikeramatkan di berbagai belahan penjuru dunia. Menurut Buku Pakuning Alam pada akhirnya Nu Tilu akan kembali ke Cipaku dimana salah satu tandanya adalah Sumedang Ramai dan dibangun Situ di Darmaraja yang kini telah terbangun yaitu Situ Jatigede atau Bendungan Jatigede, Jati artinya Awal/ Kelahiran, dan Gede artinya Besar, JatiGede adalah Awal/ Kelahiran Yang Besar.

tritunggal

Tanda- tanda kembalinya Nu Tilu Leluhur Kabuyutan Cipaku dapat kita lihat dari kehadiran simbol- simbol warnanya yaktu Merah, Putih, dan Hitam. Merah putih telah hadir lama di Indonesia menjadi simbol kemerdekaan diabadikan menjadi Bendera Republik Indonesia dan Warna Hitam atau Panji Hitam yang merupakan Warna Baju dari Rawayan Jati Kanekes saat ini semakin digemari oleh masyarakat, Walikota Bandung Kang Ridwan Kamil pun menginisasi Program #ReboNyunda berpakain hitam- hitam dan menyuarakan “lamun teu ku urang, ku saha deui”, kalau bukan oleh kita, oleh siapa lagi. Kemenangan Jokowi yang mengusung baju kotak- kotak dengan warna merah, putih, dan hitam menjadi Simbol bahwa Kemenangan Jokowi menjadi Gubernur DKI lalu kemudian Presiden Indonesia merupakan tanda adalah ketetapan dari Yang Maha Kuasa dimana Simbol Warna Leluhur Kabuyutan Cipaku Hyang Tiga hadir menyertai. Presiden Jokowi jugalah yang kemudian memutuskan untuk segera menggenangi Waduk Jatigede agar proses kembalinya Nu Tilu bisa terlaksana sesuai Uga Cipaku. Bagimana selanjutnya perkembangan Kabuyutan Cipaku dan Nusantara kita saksikan saja bagaimana kedepan #JatigedeJatidiri #CimanukMarigiDeui #JatigedeSirunganDeui #CipakuTembongDeui, namun tentu saja dalam prosesnya setiap adanya kenaikan level atau tingkatan kemampuan maka secara alami akan mengalami proses penyesuaian/ lolos ujian, ibarat tubuh bayi yang masih polos, ketika akan mulai belajar memiliki kepandaian atau kemampuan maka biasanya ditandai dengan demam atau mencret, secara alami Indonesia atau Nusantara akan menuju kepada Kejayaannya kembali, namun tentu saja pada prosesnya akan mengalami sedikit meriang dan ataupun mencret.

jatigede_lebakcawene

Pun Sapun Ka Hyang Agung, Nu Ngersakeun, Nu Maha Murbeng Alam. #CimanukMarigiDeui #JatigedeSirunganDeui #CipakuTembongDeui