Tags

, , , , , , ,

P_20150531_064107

Karuhun Sunda atau Leluhur Sumedang dalam komunikasi selalu menggunakan Bahasa Siloka atau bahasa Simbol. Silib, Sindir, Sampir, Siloka, Sasmita, itu ragam bahasa Nyunda yang dalam penuh dengan makna Simbolis. Satu yang tidak bisa dipungkiri ketika menyebut Sumedang maka seluruh masyarakat Indonesia bahkan mungkin dunia akan langsung terbayang adalah TAHU, Tahu Sumedang sudah menjadi Brand Image atau Land Mark, Plang Tahu Sumedang berdiri tegak di pinggir jalan Bandung Sumedang bahkan menyebar ke seluruh Indonesia.

batara-guru

Seperti disampaikan sebelumnya Para Leluhur menyampaikan pesan melalui bahasa-bahasa Siloka atau Simbolis, TAHU Sumedang merupakan pesan dari leluhur tentang PengeTAHUan atau ILMU pengeTAHUan atau PUSTAKA dan uniknya profesi Masyarakat Sumedang selain Petani yang terbesar adalah GURU. Suatu kebetulan yang bukan kebetulan karena semuanya telah menjadi ketentuan Yang Maha Kuasa adalah Kampus Universitas dan Perguruan Tinggi terkenal secara fakta saat ini telah beralih ke Wilayah Sumedang Institut Teknologi Bandung, Universitas Pajajaran, STPDN, dan IKOPIN berada di JATInangor Sumedang. Semuanya itu berkaitan dengan Tahu PengeTAHUan.

konsep-master-plan-Jatinangor

Dalam Uga Jatigede, disampaikan bahwa Yang Maha Kuasa memiliki 7 pohon, Jati 7, dan Yang Maha Kuasa mengambil salah satunya lalu menanamnya di tempat Jatigede sekarang oleh karenanya Wilayah itu dinamakan Jatigede karena itu adalah salah satu pohon yang ditanam oleh Yang Maha Kuasa dari 7 pohon Jati yang ada. Makna Simbolisnya adalah bahwa Jatigede merupakan tanaman Yang Maha Kuasa untuk menandai suatu peristiwa. Peristiwa apakah yang akan terjadi kedepan yang ditanam oleh Yang Maha Kuasa tentu untuk mengingatkan Manusia dan Kemanusiaan, membangkitkan kesadaran tentang Dzat-i-Gede, Dzat terbesar yang ada dalam alam semesta, siapa lagi kalau bukan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Jatigede adalah totonden dari Yang Maha Kuasa untuk menandai suatu peristiwa proses peleburan manusia dan kemanusiaan, dimana ketika Zaman Kaliyuga makin merajalela ditandai luluhlantahnya nilai-nilai Moral, Budaya, dan Spiritual masyarakat kata Darso The Phenomenon mah Zaman Edan, lamun teu milu edan moal kabagean, nu balageur ditalipak, nu bener ditincak, Score Corruption Perception Index yang masih rendah 36 dari 100 yg terbersih, disisi lain Jamaah Haji sampai antri 9 tahun, Beragama tapi Tak Bertuhan, Pancasila telah diselewengkan dari Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi Keuangan Yang Maha Kuasa, urusan perut dan sejengkal perut lebih penting dari urusan moral dan spiritual, moral hazard dimana-mana meresap dalam diri manusia, Batara Kala / Jongrang Kalapitung / Sifat Raksasa telah merasuki manusia-manusia di dunia ini.

Ketika dunia ini telah menjadi Usang maka Tuhan Yang Maha Kuasa secara otomatis akan mendatangkan Sistem Pelebur yang akan melebur segala sesuatu yang USANG kembali ke asalnya dan kemudian Yang Maha Kuasa akan menciptakan kembali yang baru dengan demikian maka Dunia ini akan kembali selamat dan berjalan sebagaimana mestinya kembali ke Zaman Satya Yuga yang tadinya Zaman Edan kembali ke Zaman Normal. Sistem pelebur ini secara realita adalah tumbuhnya kesadaran akan Ilmu PengeTAHUan, secara Simbolis akan hadirnya Batara Guru yang akan hadir mengajari /mendidik manusia kembali ke Fitrahnya sebagai manusia yang berperikemanusiaan, manusia yang memiliki budi pekerti yang luhur bukan manusia yang suka membuat kerusakan dimuka bumi.

Dalam ranah spiritual Batara Guru adalah sosok yang dikirim oleh Tuhan Yang Maha Kuasa tentu saja karena beliau ini adalah Dewa atau Malaikat maka beliau akan memerlukan tubuh manusia untuk menerima ilmu pengeTAHUan dari Tuhan Yang Maha Kuasa, Dewa / Malaikat tinggal di alam Kahyangan / Alam Ghaib, sementara manusia hidup dalam Alam Dunia/ Alam Marcapada. Batara GURU akan memberikan pengeTAHUan kepada Manusia -manusia yang dipilih atau pilihan dan membimbingnya untuk menjadi MaUng atau Manusia Unggul, Satria Pinandhita, Sang Juru Selamat yang mampu mengalahkan Jongrang Kalapitung / 7 sifat raksasa yang ada dalam tubuh manusia.

Batara Guru akan mengajarkan Mundinglaya Dikusumah mengalahkan Jongrang Kalapitung dan pergi ke Jabaning Langit menaklukan Guriang 7 untuk mendapatkan Layang Sasaka Domas maka apabila Mundinglaya Dikusumah berhasil mendapatkan Layang Sasaka Domas dia akan berhasil menyelamatkan Ibunya yaitu IBU PERTIWI, Dunia Marcapada ini. Dalam Wangsit Siliwangi dikenal tokoh Budak Angon dalam Terminologi Islam dikenal dengan tokoh Imam Mahdie Sang Juru Selamat dan Isa Al Masih yang turun kembali kebumi untuk membunuh Dajal. Dajal ini adalah putra Iblis yang telah tergelincir dari Surga karena kesombongannya, merupakan bahasa Simbolis sebagai Sifat Raksasa yang ada dalam tubuh manusia.

sundaland5

Dalam Uga Jatigede dan Wangsit Siliwangi ada cerita tentang Talaga Bedah atau Bedahnya Bendungan yang disusul oleh 7 Gunung Meletus hal itu dapat dimaknai secara dua arti yaitu arti literal dimana ada Telaga atau Bendungan yang akan Ambrol serta 7 Gunung Meletus beneran sebagai Tanda Akhir Zaman atau merupakan Siloka bedahnya Bendungan ILMU pengeTAHUan yang selama ini terbendung dan 7 Gunung yang meletus menandakan sebagai penyebaran Ilmu PengeTAHUan ini akan meledak dan menyebar ibarat Abu Tujuh Gunung yang menyebar ke seluruh Jagat Raya.

63295-presiden-jokowi-tinjau-bendungan-jatigede-sumedang-y6m_highres

Itulah tanda berakhirnya Zaman Kaliyuga untuk kemudian kembali ke Zaman Satyayuga atau Zaman Normal atau Zaman yang penuh dengan kebaikan dan kemakmuran, Budipekerti hadir kembali dalam hati manusia di dunia. Darmaraja MaUng Manusia Unggul Sang Juru Selamat Imam Mahdie hadir kembali menjadi pemimpin di berbagai belahan dunia ini. Walaupun Sumedang Ngarangrangan Pohon Jatiindung Mati Ditebang oleh Manusia- manusia yang dikuasai Jongrang Kalapitung Dajal Putra Iblis yang ada di hati manusia, pohon Jati itu akan tumbuh daun muda kembali. Mari kita semuanya berdoa seperti doanya Nabi Ibrahim AS mendoakan kebaikan dan kemakmuran bagi Alam Semesta agar kita semua kembali ke fitrahnya menjadi Khalifah Fil Ardi Manusia Unggul Sang Juru Selamat bukan manusia yang suka membuat kerusakan di muka bumi. Konsekuensi dari tidak kembali ke fitrahnya sebagai Khalifah Fil Ardi kalahnya manusia oleh Jongrang Kalapitung Idazil Laknatullah adalah Zaman Kaliyuga terus merajalela dan mungkin saja Bedah Bendungan serta 7 Gunung Meletus sebagai pertanda Kiamat akan terjadi.

Mari kita luruskan niat, bersihkan hati, dan berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar kita dibimbing, diaping dijaring agar mampu mengalahkan Jongrang Kalapitung Idazil Laknatulloh yang ada dalam hati kita. amiiiin ya robbal alamin.

‪#‎JatigedeJatidiri‬
‪#‎JatigedeSirunganDeui‬
‪#‎SumedangNgadaunNgora‬
‪#‎DarmarajaNgadegTumenggung‬

Advertisements