Tags

, , , , ,

Foto diambil oleh Suami Bi Away yaitu Kang Fajar satu-satunya Warga Kabuyutan Cipaku yang masih Ngabuyutan yang menjalankan Amanah Leluhur Kabuyutan Cipaku untuk tidak beranjak pergi. Bi Away sekeluarga bahkan tidak mengambil uang pengusir dan juga tidak membongkar rumahnya sebagai bukti Katukuhannya menjalankan prinsip hidupnya. Kami sangat salut dan hormat kepada Bi Away yang menunjukan bahwa masih ada Urang Cipaku yang masih peduli terhadap Tanah Kabuyutan menjalankan amanah para leluhur. Leluhur dulu berpesan untuk menjaga Kabuyutan, Resi Guru Darmasiksa, Amanah Galunggung, menyampaikan, “Barangsiapa yang tidak menjaga Kabuyutannya lebih hina dari kulit musang yang dibuang ke tempat sampah”.

Kenyataannya itulah yang terjadi dengan warga Jatigede ketika Tanah Kabuyutan Sawah Yang Subur disimbolkan dengan leuit yang digantikan oleh duit ganti rugi yang tidak seberapa, menunjukan betapa telah menghinakan diri sendiri. Warga yang sebelumnya Self Sustained / Mandiri Berdikari punya rumah, punya sawah, dan tidak pernah kekurangan saat ini sebagian besar masyarakat kehilangan mata pencaharian, kehilangan sawah garapan dan karena budaya agraris tentu skill dan kemampuan yang mereka miliki hanya terbatas kepada Pertanian. Mereka tidak mungkin hijrah menjadi buruh pabrik di kota apalagi mereka yang umurnya sudah di atas 50 tahun.

f9714a16-f865-404e-bd20-2f597aa5385a_169

Kami merasa malu dengan semangat Ibu- ibu petani Kendeng yang berani menyemen kakinya di depan Istana Negara untuk menolak pembangunan Pabrik Semen yang akan menghancurkan hutan dan sumber mata air sawah mereka. Barangkali kalau saja semangat Ibu- ibu di Kendeng itu ada di Jatigede, kalau saja yang memiliki prinsip Katukuhan Seperti Bi Away ini ada 100 kepala keluarga saja yg menolak Sawah2 mereka ditenggelamkan mungkin kesengsaraan dapatlah dihindarkan. Demo- demo masyarakat yang ada hanyalah meminta Uang Ganti Rugi yang dinaikan.

IMG_4726

Bahkan tokoh- tokoh Jawa Barat yang menggunakan label Kasundaan pun tidak ada yang lantang dan keras berani menolak Penenggelaman Kabuyutan Sunda di Jatigede. Kami hanya mencatat ada Ambu Ully Sigar Rusady, Kang Acil Bimbo, Ambu Pristy, Prof Mubiar Purwasasmita, Mang Ihin Jendral Solihin GP, Kang Budi Dalton BikerBrotherhood, dan ManJassad yang menyatakan dengan tegas kepada Pemerintah untuk menghentikan penenggelaman Kabuyutan. Tokoh- tokoh Sunda lainnya seolah larut dalam Hedonismeu Susundaannya, mereka cukup puas dengan memasangkan Iket Kepala dikepala mereka seolah2 mereka sudah menjadi Urang Sunda Sejati namun justru malah tidak peduli terhadap Aset Sunda yang paling berharga yaitu Kabuyutan yang malah dibiarkan ditenggelamkan.

Kabuyutan dalam nilai-nilai Budaya Sunda adalah sesuatu yang sangat disakralkan oleh karenanya sangat diamanahkan untuk dijaga, bahkan para Leluhur memberikan pesan yang sangat keras yaitu Apabila Kabuyutan diganggu Bencana Sedunia, “Lemah Sagandu Diganggu Balai Sadunya”. Kabuyutan adalah Jati Diri Urang Sunda karena dari sanalah semuanya bermula sayangnya Kabuyutan sudah tenggelam dan seiring dengan hal tersebut tenggelam pula Ethos Sunda yang dahulu sangat dibanggakan sebagai manusia yang punya moral, etika, dan kepribadian tinggi, Tom Pires saja memuji dalam tulisannya dengan menyatakan bahwa Urang Sunda adalah orang yang jujur dan hidup sangat makmur sekali.

11800419_1022027154482728_3659902661252310539_n

CIksGDGUAAAdWw2

‪#‎UgaJatigede‬ ‪#‎DzatiGedeJatidiri‬ ‪#‎AmanahGalunggung‬ ‪#‎KabuyutanCipaku‬ ‪#‎SaveJatigede‬

Advertisements