Tags

, , , ,

BukuLayangCipakuDarmarajaSumedang

Keyakinan mengenai Uga Jatigede ini beredar di Masyarakat Jatigede berikut ini liputan dari CNN Indonesia yang mewawancara tokoh masyarakat Desa Sukaratu, http://www.cnnindonesia.com/nasional/20150730114927-20-69064/siloka-jatigede-dan-cerita-soal-bahaya-gempa/ tentunya selaku yang memiliki nalar serta logika akal sehat begitu mendapatkan informasi tentang Uga itu sikap kita bisa dua pertama mengacuhkannya/ tidak peduli terhadap uga itu menganggapnya hanya omong kosong atau menyikapinya secara proporsional sebagai pesan leluhur yang kebenarannya harus dicari tahu, diteliti, dipahami secara akal sehat, apakah Uga tersebut dapat terjadi atau tidak?

Pemahaman kami tentang Uga Jatigede didukung oleh pendapat para ahli Geologi, Lingkungan Hidup, dan juga tokoh spiritual menyimpulkan adanya keterkaitan antara Uga dengan realita. Berikut kajian ahli geologi Dr. Ir. Emi Sukiyah, MT, Dosen Geologi Unpad yang menyampaikan tidak selayaknya infrastruktur sebesar Jatigede dibangun disana, lempeng tektoniknya aktif dan daerah episentrum gempa, http://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/15/04/07/nmfgvy-waduk-jatigede-dibangun-pada-daerah-episentrum-gempa. Oleh karenanya Uga seharusnya dapat dijadikan peringatan dini bagi kita semua agar terhindar dari bencana yang lebih luas. #SaveJatigede telah menginformasikan mengenai Potensi Bahayanya Jatigede kepada pemerintah melalui Infografis Bahayanya Jatigede dan diliput oleh DetikDotKom, http://finance.detik.com/read/2015/06/28/112107/2954213/4/beredar-infografis-penolakan-waduk-jatigede namun rupanya pemerintah tetap bersikukuh melanjutkan proyek.

Tentu saja kita semua berharap bahwa Bendungan Jatigede aman- aman saja, bisa bermanfaat untuk masyarakat luas dan tidak menimbulkan bencana, namun secara akal sehat dan rasional bahwa dibalik indahnya pembangunan Bendungan Raksasa juga ada RESIKO BESAR yang ada didepan mata. #SaveJatigede telah menginventarisasi setidaknya ada DUA RESIKO besar yang mungkin terjadi akibat pembangunan Bendungan Raksasa. Pertama adalah Resiko terjadinya GEMPA IMBAS seperti yang terjadi di Bendungan Zipingpu China, yang menewaskan 80.000 jiwa selengkapnya dapat dibaca berita di link berikut ini http://www.jpnn.com/read/2009/02/05/13762/Gempa-Sichuan-karena-Waduk . Resiko Kedua adalah Ambrolnya Waduk seperti yang terjadi di Bendungan Situ Gintung, Bendungan Banqiao China yang menewaskan 230.000 jiwa, Bendungan Valjont di Italia, dan lainnya.

Bagaimana sikap kita terhadap Dua Resiko di atas? Apakah kita akan berdiam diri, acuh tak acuh dan berharap semuanya tidak akan terjadi? Pertanyaannya bagaimana kalau hal tersebut terjadi? Karena tidak ada yang bisa menjamin bahwa Dua Resiko tersebut tidak akan terjadi? Ketika kuliah kita diajarkan tentang Manajemen Resiko, bahwa sebaiknya segala sesuatunya harus disikapi secara rasional dan akal sehat yaitu melalui Manajemen Resiko, bagaimana mengelola atau memanage dua resiko tersebut? Secara ilmiah tentu Pemerintah seharusnya menyiapkan Manajemen Resikonya berupa MITIGASI RESIKO tersebut di atas bentuknya berupa RENCANA TANGGAP DARURAT! Nah apakah pemerintah sudah membuat Rencana Tanggap Darurat (RTD) untuk Waduk Jatigede mengantisipasi Dua Resiko yang mungkin terjadi tersebut? Itulah yang menjadi pertanyaan besarnya.

Seharusnya pemerintah sebelum menggenangi Waduk Jatigede sudah membuat RTD, contoh pembangunan Gedung Bertingkat saja dibuat RTD-nya misal untuk mengantisipasi Kebakaran maka dibuat Fire Fighting System, gedung dipasang sprinkler, hydrant, fire extinguisher, fire escape/ tangga darurat, termasuk rencana evakuasi, mengapa harus disiapkan RTD-nya karena kita tidak tahu kapan resiko itu terjadi. Bahkan dibeberapa negara maju dilatih dan disimulasikan ketika misalnya Gedung Kebakaran, apa yang harus dilakukan oleh petugas keamanan, apa yang harus dilakukan oleh pengisi gedung, kemana mereka harus berlari, apakah melewati lift atau melewati tangga darurat, dimana posisi tangga darurat dalam gedung tinggi itu. Bagaimana sistem peringatan dininya, alarm sistem, misal terjadi kebakaran di lantai 30 sementara total lantai ada 60 lantai gedung bagaimana sistem alarm nya, bagaimana cara evakuasinya, kemana mereka harus pergi dan berkumpul?

Seperti di atas lah cara berfikir Manajemen Resiko pembangunan gedung bertingkat tinggi, sekarang untuk Pembangunan Waduk Raksasa Jatigede yang menggenangi area 4800 Ha lebih dengan volume air 1 Milyar m3 artinya 100 kali Situ Gintung, apakah sudah dipikirkan Rencana Tanggap Daruratnya? Contoh kasus simulasi kalau tiba- tiba dideteksi Dinding Waduk mengalami keretakan dan kebocoran sudah terlihat apa yang harus dilakukan, lalu kemudian kalau terjadi gempa dahsyat apa yang harus dilakukan, lalu kalau benar- benar Ambrol apa yang harus dilakukan? Bagaimana sistem peringatan dininya? Beberapa hari yang lalu kita menyaksikan Peringatan Dini Tsunami yang cukup baik, ketika Gempa Mentawai 7.8 SR terjadi seluruh Stasiun TV menyiarkan secara otomatis Peringatan Dini akan datangnya Tsunami, dan warga masyarakat berbondong- bondong pergi evakuasi menyelamatkan diri.

Nah apakah pemerintah sudah membuat sistem peringatan dini yang sama untuk Waduk Jatigede? Misal begitu Ambrol Waduk secara otomatis seluruh Stasiun TV Lokal maupun Radio Lokal di Wilayah Sumedang, Kadipaten/ Majalengka, Cirebon, dan Indramayu menayangkan peringatan bahwa Waduk Sudah Ambrol dan air akan menyapu kawasan 4 kabupaten tersebut, sehingga warga masyarakat terutama yang paling hilir masih sempat menyelamatkan diri. Lalu sudah dibuatkan simulasi kemana air ambrolnya dari Jatigede akan mengalir? Dimanakah titik rawan ambrol Jatigede yang mungkin terjadi? Menurut Uga adalah KADIPATEN KAPAPATENAN, air akan terlebih dahulu mengarah ke Majalengka lalu kemudian baru ke Cirebon dan berakhir di Indramayu. Nah sudah disimulasikan kah kecepatan datangnya air kalau ambrol, seberapa cepat air akan menjangkau Majalengka, Cirebon, dan Indramayu? BMKG bisa memprediksi kedatangan Tsunami Gempa Mentawai bahwa Tsunami akan mencapai darat sekitar 30 menit.

Setelah dapat mensimulasikan waktu datangnya air, lalu tentu harus mensimulasikan kemana seharusnya arah evakuasi warga masyarakat? Jangan sampai malah menghampiri kemana air akan datang. Hal- hal seperti itu seharusnya dipikirkan secara matang dan dibuat secara detail dalam Blueprint RENCANA TANGGAP DARURAT WADUK JATIGEDE. Baik itu resiko akibat jebolnya waduk, resiko akibat gempa imbas, dan hal- hal yang kecil misalnya resiko tenggelamnya manusia di Jatigede, seharusnya dipikirkan dan dibuat Rencana Tanggap Daruratnya agar semua paham apa yang harus dilakukan apabila resiko- resiko itu terjadi. Besar harapan kami agar pemerintah segera menyusun RTD Jatigede dan menginformasikannya kepada masyarakat luas terutama masyarakat yang mungkin terkena resiko Jatigede.

#RencanaTanggapDarurat #UgaJatigede #MitigasiBencana #SaveJatigede

Advertisements