Cipaku University, Beyond University, Universitas Kabuyutan

#BihariKiwariJaga #PastPresentFuture Pas banget ini status Gus Nadir, Mamang jadi inget Tugas Akhir Mamang dahulu colek Para Suhu Guru Pembimbing Mamang Pak Agus Ekomadyo, Pak Bambang Totopambudi, dan Pak Iwan Sudradjat dulu bikin Pusat Budaya Sunda dengan Tema Transformasi Arsitektur Tradisional Sunda, tidak menyangka setelah menjauh dari dunia Arsitektur dan Sunda karena mengejar kehidupan duniawi, dari mulai bekerja di Grup Hotel Salak The Heritage yang kebetulan Bosnya Alumni ITB juga alumni Schlumberger, punya partner Ex GM British Petroleum, yg dahsyat sekali mengajarkan Mamang berinteraksi dengan dunia luar, memulai karier dari Manajemen Trainee sampai mentok, tapi selain itu sampingannya karena Bos banyak bisnis afiliasinya merangkap jadi Corporate Secretary, juga membantu Support Business Oil & Gasnya menjadi Country Representative utk Nutech Energy Alliance, Houston Based Company jadi antek Mama Rika xixixi berkah bisa keliling Asia Tenggara jualan Teknologi Advance Nuclear Magnetic Resonance hehehe. Juga diberikan kesempatan membantu mengembangkan Herbal Indonesia, Dr. Liza sebagai marketing, membangun jaringan pemasaran di Indonesia.

Setelah itu kemudian Mamang mulai merintis usaha sendiri, sempat juga jeda membantu Bupati Kuningan mengembangkan Obyek Wisata yang ternyata berada di Situs2 Kabuyutan, baru ngeu setelah tidak di Kuningan ternyata si Mamang tinggal di Kampung Cipaku. Kemudian setelah melalang lintang urusan duniawi baru kemudian dijewer oleh Semesta tahun 2012, dikenalkan kembali ke Cipaku Jatigede Darmaraja Sumedang, tempat kelahiran Mamang. Berbagai proses telah terlewati dari mulai dikenalkan, jatuh cinta dengan Cipaku, merasa kehilangan, merasakan murka dan marah juga kecewa karena Kabuyutan yg baru saja dicintai ternyata harus tenggelam, berusaha menyelamatkan dengan bikin gerakan #SaveJatigede namun ternyata malah ditegur leluhur xixixi bukan Jatigede yang harus diselamatkan tapi Jatidiri alias diri sendiri, Jatigede mah baik2 sajah, dahulu bahkan sudah pernah menjadi lautan, banyak jejak fosil laut disana, jadi sekarang menjadi danau itu alami2 saja. Gerakan dirubah menjadi #SuryaJatigede, insun medal madangan, mungkin Si Mamang merasakan apa yang dirasakan Prabu Tajimalela ketika mengucap kalimat itu, aku lahir terang kembali, kembalinya kesadaran manusia dalam keadaan terang, sebagaimana siloka Dahyang Sumbi dalam Legenda Sangkuriang, Ngelebetkeun boeh larang, mengibarkan kain suci, sehingga merubah gelap menjadi terang.

Amazing 2014 Mamang mulai menghidupkan #BalongKabayan dan ternyata Ilmu yang dipelajari di Arsitektur ITB ini berguna sekali, Balong Kabayan yang berlokasi di Pakuan Bogor menjadi tempat bagi Mamang mengasah #Jatidiri, #TataSalira untuk kemudian bisa belajar juga tentang #Jatigede dan berinteraksi dengan #BalongJatigede belajar tentang #TataBuana, insya Allah senin ini mulai membangun Cipaku University, Bale Agung, Bale Lembu Agung di Astana Gede Cipaku yang kedepan akan dihidupkan fungsinya sebagai University of Life, Kabuyutan, Wahana Learning Center membangun kesadaran agar eling dan waspada, mengenal Waruga Jagat, Jagat Alit Jagat Agung, Jatidiri Jatigede. Insya Allah Soft Opening tanggal 14 Muharam 1441 H, bertepatan dengan Bulan Purnama, Tepat Kelahiran Kerajaan Tembong Agung Batara Guru Aji Putih, bukan akan menghidupkan romantismeu masa lalu, namun mentransformasikan Spirit Masa Lalu, Di Masa Kini, untuk menyongsong Masa Depan, Di Nu Kiwari Ngancik Nu Bihari Seja Ayeuna Sampeureun Jaga.

Bagaimana peran Kasundaan, Kasumedangan sebagai Puseur Budaya Sunda dimana Mahkota Pajajaran sekarang ada di Sumedang, Spirit Pajajaran Anyar, Yang Sejajar dalam Konteks Nusantara, Indonesia, dan Perkembangan Global. Pesan leluhur sangat jelas kita harus bisa #NgigelanZaman jangan sampai sebaliknya diigelan zaman. Bagaimana menjaga keharmonisan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Semesta/ Tuhan, in harmonia progressio hehehe ITB bingiits ya. Semoga Cipaku University, Bale Agung, Bale Lembu Agung Jatigede bisa menjawab itu semua. Yang terpikir oleh Mamang mungkin Bale tersebut sebagai ajang diskusi, sharing, kongres, ngawangkong teu beres2 hahaha bertukar pikiran, sehingga kita dapat tercerahkan. mengundang berbagai nara sumber utk memaparkan ide2 dan pemikirannya, silih asah, silih asih, silih asuh dan silih wangian. Aamiin yra, semoga mestakung. #CipakuUniversity #BeyondUniversity #PusatBudayaSunda #UniversityOfLife #SumedangPuseurBudayaSunda #CahayaPakuningAlam #SuryaJatigede #SuryaKanta #PakuAlam #BaleAgungJatigede #BaleLembuAgung #AstanaGedeCipaku #CipakuTembongAgung

Advertisements

Bale Lembu Agung Jatigede, Cipaku University

Bismillah, Alhamdulillah barangkali pesan Illahiah setelah Puasa dan Idul Fitri 1440 H, mendapatkan inspirasi untuk melanjutkan kembali upaya menghidupkan Spirit/ Nilai- nilai Universal Cipaku yang selama ini tenggelam. Insya Allah kita akan bedah kembali melalui Laku Nyata dengan menghadirkan kembali Spirit Darmaraja Leadership yang dicetuskan oleh Prabu Lembu Agung yang Makom Petilasannya ada di Astana Gede Cipaku yang sampai saat ini belum tenggelam.

Prabu Lembu Agung adalah Putra Sulung Prabu Tajimalela Bin Prabu Aji Putih Kerajaan Tembong Agung Cikal Bakal Kerajaan Sumedang Larang. Prabu Lembu Agung merupakan pewaris tahta yang sah, namun beliau lebih suka mendalami ilmu pengetahuan, ngaresi, menjadi ulama ketimbang menjadi raja. Sempat menolak titah ayahnya namun kemudian beliau dipaksa menjadi Raja karena itulah Darma atau Bakti atau Jihad yang harus dijalaninya. Maka beliau pun kemudian ikhlas menjalaninya dan berucap bahwa beliau menjadi raja bukan karena hawa nafsu ingin menjadi penguasa namun hanya menjalankan Darma/ Bakti, Darma Ngarajaan karena amanah yang harus diemban, dan kemudian disingkat menjadi Darmaraja.

Beliau kemudian menjadi Raja yang adil dan makmur, memimpin bukan dengan hawa nafsu karena beliau sudah melepas kemelekatan duniawi. Beliau telah belajar ilmu Tapak Suci, Total Berserah Diri Tuhan YMK, yang diajarkan langsung oleh ayahnya yaitu Prabu Tajimalela atau Resi Cakrabuana. Setelah menjadi raja beliau kemudian menyerahkan kepada adiknya Gajah Agung dan beliau melanjutkan kembali apa yang disenanginya dahulu yaitu menjadi Resi/ Ulama. Besar harapan kami Bale Lembu Agung Jatigede dapat menjadi tempat diskusi keilmuan baik itu ilmu Agama, Ilmu Leadership, Darmaraja Leadership maupun ilmu lainnya. Saat ini bermunculan Corporate University dan Universitas Umum yang berbasiskan lebih pada pendidikan duniawi, maka Astana Gede Cipaku dapat menjadi penyeimbangkan dengan menyajikan konsep leadership berbasis Spiritual, Darmaraja Leadership yang diajarkan di Cipaku University.

Pembangunan Bale Lembu Agung akan dipimpin langsung oleh Mang Opik, Ahmad Taufik Sirojudin, Incu Putu Aki Ohed Kuncen Buhun Astana Gede Cipaku. Harapannya dpt diselesaikan & digunakan untuk Acara Hajat Bakti Ngaruat Jagat dan Perayaan Ulang Tahun Kerajaan Tembong Agung pada Tanggal 14 Muharam 1441 H, apabila ada yang tertarik ingin Babakti Ka Lemah Cai mangga dpt menghubungi Mang Opik.

Ngaji Alif, Tuhan dan Karen Amstrong

SAVE_20190606_080844

Tulisan Mang GM Tempo dibawah ini dalam bingiiits, jadi inget dalam bahasa Suluk/ pantun buhun ada cacandran seperti ini yg menggambarkan tentang hakekat -Nya:

Teangan
Tapak Soang di Awang- Awang
Tapak Meri Dina Leuwi
Tapak Sireun Dina Batu
Kalakay Pare Jumarum
Dawegan Kalapa Kolot
Kotok bongkok kongkorongok
Kacingcalang Hahaleuangan
Disebut Aya da Euweuh
Disebut Euweuh da Aya

(note : membacanya mesti kombinasi antara mind + heart, atawa pikiran dan hati, rasio dan rasa, merah dan putih)

Tidak lupa Mamang tangkod kan Gambaran Suluk, Tasawuf yang disebut dengan #Martabat7 #Jati7 #Cakra7 #Langit7 #Guriang7 Satu entitas banyak diksi/ sebutan, Bhinneka Tunggal Ika.

Tulisan Gunawan Muhamad:
TUHAN & ARMSTRONG

Tuhan telah diambil-alih agama-agama — dan agaknya itulah masalah paling gawat hari-hari ini.

Kini agama jadi sejenis sekte, kelompok tertutup, dengan kecenderungan tak mengkui “orang luar”. Para agamawan merasa diri jadi jurubicara Tuhan dan umat, para pemeluk melihat diri paling-suci-paling-lurus. Agama-agama, kata Karen Armstrong dalam The Battle for God, “mendefenisikan doktrin, membangun rintangan, menegakkan tapal batas, dan memisahkan mereka yang beriman dalam sebuah tempat terpisah yang suci di mana hukum dengan keras diberlakukan.”

Suara Karen Armstrong sangat menyejukkan dalam percakapan tentang Tuhan dan iman di masa ketika orang (muslim, tapi tak hanya muslim) mudah merasa agamanya dihina, takut diremehkan, dan cepat membalas, membinasakan. Dalam situasi yang bengis itu Armstrong justru berbicara dengan penuh simpati kepada mereka yang beriman — meskipun dengan suara murung menyebut keterbatasan agama dan kekerasannya. Continue reading