Ramadan, Galunggung, Galungan Yang Agung

Assalamualaikum wr wb, Sampurasun, wilujeng shaum/ puasa utk rekan2 yang beragama Islam, di bulan ramadan yang artinya “membakar”, kita berlatih “mastering our self”, mengenal diri sendiri, #Jatidiri, #TataSalira, membakar hawa nafsu, ego, berlatih diri mengolahrasa, merasakan lapar dan dahaga, menjauhkan dari perbuatan yang tidak baik, dengan harapan setelah sebulan kita berperang, Galunggung, Galungan yang agung, perang besar menaklukan diri sendiri, maka kita meraih kemenangan besar, idul fitri, menjadi manusia paripurna/ masagi/ insan kamil yang sehat jasmani dan rohani, lahir dan bathin.

Selamat berjuang dan semoga berhasil meraih kemenangan.

#JatidiriJatigede #TataSaliraTataBuana

Hapunten samudaya kalepatan, mohon maaf lahir dan bathin.

Hanupis & Salam,
Mang Asep Kabayan

Advertisements

Tauhid Pertanian Ala Cipaku

_IMG_1131

Alhamdulillah ada Mang Ajo yang mengeluh di status FB Mamang, katanya hasil panen kurang baik dan harga gabah jeblok. Jadi kesempatan Mamang untuk menceritakan tentang Tauhid Pertanian Ala Kabuyutan Cipaku. Ilmu Buhun bagaimana mengolah rasa dan spiritual dalam pertanian. Abah Mamang mengajarkan bagaimana Elmu Buhun Kabuyutan Cipaku yaitu memuliakan Padi sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT, dari mulai Mitembeyan, mulai menanam padi, dari menyemai benih, sampai pas Mipit mulai memanen dilantunkan do’a2, mantra2 buhun untuk mendoakan dan memuliakan padi sebabai salah satu ciptaan Tuhan YME, yg bermanfaat bagi manusia. Dalam cacandran buhun Cipaku disebut, “Mipit Kudu Amit, Ngala Kudu Menta”, segala sesuatu yang dilakukan dari mulai menanam sampai memanen harus memohon izin / restu kepada Tuhan YME, Allah SWT, maka padi yang kita tanam akan selalu diberkahi oleh Allah SWT. Hasilnya mucekil, padinya rendemannya tinggi, lebih berat, dan ketika dimakannya pun memberikan dampak kesehatan yang positif. Ketika panen selesai pun Abah mengajarkan sedekah, dengan mengundang makan bikin hajat, sholawatan sebagai rasa syukur kepada Allah SWT. Sebelum menerima kita harus memberi, begitulah tauhid pertanian ala Cipaku, hasilnya? Alhamdulillah kalau sawah yg lain kena hama penyakit, sawah Abah mah sehat selalu, kadang heran katanya yang lihat kok sawah punya Abah mah beda, lebih hijau dan hasilnya lebih banyak. Ya begitulah karunia Allah SWT, karena padi itu ciptaan/ mahluk Allah SWT, bergerak atas kehendak-Nya, maka kita tinggal memohon dan minta kepadanya. QS: 40 : 60, “mohonlah kepada Ku, maka niscaya akan Aku kabulkan”. Bagaimana kita akan mendapatkan hasil yang baik kalau cara kita kurang baik dan kita minta ke Dzat Maha Kuasa maka kun fa ya kun. Sesuai QS Ar Rad 11, Allah SWT tidak akan merubah sebelum kita merubah apa yang ada dalam diri kita sendiri. #JatidiriJatigede #TataSaliraTataBuana #TauhidPertanian #KabuyutanCipaku

Cipaku, Paku, Pakuan Pajajaran

IMG_20190419_075933K.F. Holle (1869). Dalam tulisan berjudul De Batoe Toelis te Buitenzorg (Batutulis di Bogor), Holle menyebutkan bahwa di dekat Kota Bogor terdapat kampung bernama CIPAKU, beserta sungai yang memiliki nama yang sama. Di sana banyak ditemukan pohon paku. Jadi menurut Holle, nama Pakuan ada kaitannya dengan kehadiran Cipaku dan pohon paku. Pakuan Pajajaran berarti pohon paku yang berjajar (“op rijen staande pakoe bomen”).

G.P. Rouffaer (1919) dalam Encyclopedie van Niederlandsch Indie edisi Stibbe tahun 1919. Pakuan mengandung pengertian “paku”, akan tetapi harus diartikan “paku jagat” (spijker der wereld) yang melambangkan pribadi raja seperti pada gelar Paku Buwono dan Paku Alam. “Pakuan” menurut Fouffaer setara dengan “Maharaja”. Kata “Pajajaran” diartikan sebagai “berdiri sejajar” atau “imbangan” (evenknie). Yang dimaksudkan Rouffaer adalah berdiri sejajar atau seimbang dengan Majapahit. Sekalipun Rouffaer tidak merangkumkan arti Pakuan Pajajaran, namun dari uraiannya dapat disimpulkan bahwa Pakuan Pajajaran menurut pendapatnya berarti “Maharaja yang berdiri sejajar atau seimbang dengan (Maharaja) Majapahit”. Ia sependapat dengan Hoesein Djajaningrat(1913) bahwa Pakuan Pajajaran didirikan tahun 1433.

H. ten Dam (1957). Sebagai seorang pakar pertanian, Ten Dam ingin meneliti kehidupan sosial-ekonomi petani Jawa Barat dengan pendekatan awal segi perkembangan sejarah. Dalam tulisannya, Verkenningen Rondom Padjadjaran (Pengenalan sekitar Pajajaran), pengertian “Pakuan” ada hubungannya dengan “lingga” (tonggak) batu yang terpancang di sebelah prasasti Batutulissebagai tanda kekuasaan. Ia mengingatkan bahwa dalam Carita Parahyangan disebut-sebut tokoh Sang Haluwesi dan Sang Susuktunggal yang dianggapnya masih mempunyai pengertian “paku”.

#Paku #Cipaku #Pakuan #PakuAlam #PakuBuwana