Desa Ujung Tombak Kebangkitan Bangsa

fb_img_1547454646058

Cagar Budaya Leluhur Nusantara yg masih ada ialah DESA. Desa atau “swadesi” yang berarti tempat asal atau tanah leluhur yang merajuk pada satu kesatuan hidup dengan satu kesatuan norma dengan batas yang jelas. Hari ini Senin 14 Januari 2019 adalah hari bersejarah dimana Jokowi Presiden Joko Widodo bertemu Persatuan Perangkat Desa Indonesia (PPDI) yang berjumlah puluhan ribu orang di Istora Senayan, Jakarta. Pertemuan ini merupakan respons Presiden terhadap tuntutan dari PPDI.

Guru Mamang pernah menyampaikan coba lihat Angka 17. 45, dimana itu angka yang dirayakan setiap tahunnya sebagai Hari Kemerdekaan dan BerSATUnya seluruh elemen bangsa. Coba baca QS 17, 4 dan 5, apa yang tertera disana, Mamang langsung meluncur lihat aplikasi ternyata QS Al Isra yang berisikan bahwa awal mula kebangkitan adalah dimulai dari Desa, dari Kampung- kampung yang kemudian merajalela sampai ke kota. Saat ini apa yang tertuang dalam ayat tersebut nyata adanya, dengan adanya Dana Desa yang tiap tahun makin bertambah, maka Desa tidak hanya jadi penonton, tapi ikut menikmati pembangunan dan malah menjadi ujung tombak perekonomian nasional. Contoh Desa di Klaten Jawa Tengah dengan Umbul Pongoknya yang menghasilkan Rp. 12 Milyar setahun, melalui Program Desa Wisatanya telah membukakan mata kita semua bahwa kalau kita kreatif, kita inovatif, Desa punya potensi besar bisa menciptakan lapangan kerja dan multiplier efek yang berkelanjutan.

QS Al Isra 17, Ayat 4 dan 5, “Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: “Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar”. “Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana”.

Dana Desa dan besarnya kepedulian Jokowi pada Aparat Desa merupakan bukti nyata yang terasa kepada seluruh masyarakat Indonesia.

#KahartosKaraosBuktos
#DesaBerSATU #RakyatBerSATU #IndonesiaBerSATU

Advertisements

Jalan Lapang Bagi Para Penggiat Kabuyutan

img_20190114_130719_584Selamat ngiring bingah utk Kang Herman Suryatman, mugia lungsur langsar & mangprang ngemban amanah janten Sekda Kab Sumedang. Sumedang Medal Nanjeur Di Juritan, Mapag Pajajaran Anyar, Nusantara Jaya Di Buana 🙏💖💪👍.

Alhamdulillah beliau peduli sama Paku Alam, Cipaku, Akhir Tahun Lalu Ketemu Mamang Bahas pengembangan Jatigede, sekarang diangkat jadi Sekda Sumedang 💖💖💖🙏🙏🙏 Beliau penggagas Kampung Buricak Burinong, awalnya karena mau jadi Bupati, tapi ngak punya kendaraan jadi ngak bisa nyalon. Mamang ngobrol sareng anjeuna akhir taun kamari, “abdi salut ka Akang, walopun Akang teu janten Bupati, Buricak Burinong teras laju, insya Allah barokah Kang”.

Karuhun Cipaku memang sedang nyaring, menyeleksi orang2 yang dihin dan peduli sama Kabuyutan 🙏💖💪 Kabuyutan, Bayt, Buyut, Buyutun, Bayt dari Baytullah. Al Haj 78, yang nanjeurkeun Kabuyutan akan diberikan kelapangan dan kemudahan, Jaya Perkasa, Nanjeur Di Juritan. Yang tidak menghormati Kabuyutan, merusak Kabuyutan akan hina, lebih hina dari kulit musang yang dibuang ke tempat sampah. Begitu menurut Eyang Prabu Guru Darmasiksa, Resi Patanjala.

Mahabarata Barata Yuda Nusantara, Penanda Berakhirnya Zaman Besi

img_20190112_065358_029

Pada Akhirnya Uga Ngawaruga, Uga Jatigede Kabuyutan Cipaku pun terjadi, kata Uwa Mamang waktu Mamang memperoleh Buk Cipaku, Pantun Buhun Cipaku, Cahaya Pakuning Alam, beberapa tanda bahwa Jatigede Kertajati, Jati = Awal, Gede = Besar, Kerta = Zaman Emas, Awal Besar Zaman Emas, proses berakhirnya Zaman Besi, Zaman Keburukan, Zaman Kaliyuga kembali ke Zaman Kerta, Zaman Satya, Zaman Emas maka akan ditandai salah satunya adalah Eluk Terus Perang Terus, Eluk = Penyakit karena virus yang bermunculan, dan Perang yang tak pernah berkesudahan, bahkan perangnya adalah perang Mahabarata Barata Yuda, Perang Saudara, perang antar sahabat, antar teman, sebagaimana Kurawa dan Pandawa yang merupakan satu keluarga semua bertikai untuk berebut kekuasaan, dan kemudian berperang di padang kurusetra.

Dari sejak Pilpres 2014 Perang Kesadaran akibat pilpres, mulai bergema, lalu kemudian semakin panas ketika Pilgub DKI terjadi, dan Pilpres 2019 ini menjadi puncaknya dua pasangan, dua kubu saling meruncing menjadi Cebong vs Kampret, bahkan kaum intelektual, cendikiawan, dan agamawan pun terlibat dalam peperangan ini, sama persis seperti Mahabarata, Para Resi pun ikut berperang tidak hanya para Ksatria, saat ini kita tidak heran kalau Profesor aja ikut2an dalam peperangan ini, ada yang ikutan nyebar hoax, dll. Pola Spirit, Pola Kesadaran dari awal sampai akhir zaman selalu sama, dalam ilmu Cipaku manusia terdiri antara jasad dan isi, jasad bisa berubah2 seperti kedok namun isinya sama, itu itu juga, dalam bahasa Sunda disebut, “di nu kiwari ngancik nu bihari seja ayeuna sampeureun jaga”, yg bersemayam dari dulu, sekarang, yang akan datang sama isinya.

img-20190111-wa0050

Namun tentu dibalik musibah selalu ada berkah #DialektikaParadoksal Akhir merupakan Awal, Kehancuran akibat peperangan menjadi awal bangkitnya kesadaran untuk memulai Zaman Baru, Zaman Penuh Kesadaran, Eling dan Waspada, contohnya Jepang dan Jerman, walau negaranya luluh lantah hancur karena perang dunia ke-2 namun berkahnya mereka bisa mulai merintis berbenah diri, introspeksi diri, mengembangkan dirinya, dan sekarang menjadi negara maju. Mari kita sambut Zaman Baru, Zaman Emas Nusantara.

fb_img_1547044267128